Model Pembelajaran INKUIRI: Model Pembelajaran Yang Efektif dan Kreatif Yang Disusun Putri Lasmi, Mastiur Yuliani Dan Zahrina Amelia (Mahasiswa Magister Pedagogi Unilak)

Pekanbaru, aktivis.co.id – Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Kemampuan ini penting untuk mengembangkan diri dan menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara sistematis, kritis, dan analisis untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari suatu permasalahan yang dihadapi.

Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan. Penerapan model pembelajaran inkuiri dapat memberikan berbagai manfaat bagi siswa, salah satunya adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Dalam model pembelajaran inkuiri, siswa didorong untuk berpikir secara aktif dan mandiri. Mereka harus mampu mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Hal ini dapat melatih siswa untuk berpikir secara kritis dan logis.

Selain itu, model pembelajaran inkuiri juga dapat membantu siswa untuk mengembangkan karakternya. Dalam model pembelajaran ini, siswa dilatih untuk bersikap mandiri, bertanggung jawab, dan kerja keras. Mereka juga dilatih untuk bersikap terbuka dan toleran terhadap pendapat orang lain.

Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi dampak model pengajaran yang berbeda terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Susanti (2019) menemukan bahwa model Jigsaw secara signifikan meningkatkan pemikiran kritis pada mata pelajaran sains, sementara Nur’azizah (2016) melaporkan hasil serupa untuk model Inkuiri Terbimbing dalam konteks energi bunyi.

Muhammadiyah (2022) lebih lanjut mendukung temuan ini dengan menunjukkan efektivitas model Discovery dalam pengajaran teks-teks Islam. Harahap (2020) memperluas penelitiannya ke bidang matematika, menunjukkan bahwa model Inkuiri meningkatkan berpikir kreatif siswa. Studi-studi ini secara kolektif menunjukkan bahwa model pengajaran berbasis inkuiri, termasuk Jigsaw, Guided Inquiry, Discovery, dan Inquiry, dapat secara efektif mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa.

Oleh karena itu, penerapan model pembelajaran inkuiri di sekolah sangat penting untuk dioptimalkan. Guru perlu diberikan pelatihan dan pendampingan agar dapat menerapkan model pembelajaran ini dengan efektif.

Berikut ini adalah beberapa tips untuk menerapkan model pembelajaran inkuiri di sekolah:

• Mulailah dengan memberikan pertanyaan yang terbuka dan menantang siswa untuk berpikir.

• Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan.

• Berikan bimbingan dan dukungan kepada siswa selama proses pembelajaran.

• Lakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.

Dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri secara efektif, guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan karakternya. Hal ini akan mempersiapkan siswa untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Adapun kelebihan dan kekurangan pada model pembelajaran inkuiri adalah

Kelebihan:

– Mengembangkan keterampilan berpikir kritis: Inkuiri mendorong siswa untuk berpikir secara analitis, memecahkan masalah, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Mereka belajar mengajukan pertanyaan yang tepat, mengumpulkan data, menganalisis bukti, dan menarik kesimpulan sendiri.

– Meningkatkan motivasi belajar: Siswa lebih terlibat dalam pembelajaran ketika mereka aktif mencari jawaban dan memecahkan masalah. Inkuiri membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik, sehingga meningkatkan motivasi dan keingintahuan belajar.

– Membangun pemahaman yang lebih dalam: Melalui penemuan dan eksplorasi, siswa mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan tahan lama dibandingkan dengan menghafal fakta. Mereka belajar menghubungkan konsep, melihat keterkaitan, dan menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks yang berbeda.

– Mengembangkan keterampilan kolaborasi: Inkuiri seringkali dilakukan dalam kelompok, sehingga siswa belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan berbagi ide. Mereka belajar menghargai perspektif orang lain dan mengembangkan keterampilan sosial yang penting.

– Menumbuhkan kreativitas dan inovasi: Inkuiri mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan mencoba pendekatan baru. Mereka belajar mengambil risiko, bereksperimen, dan menemukan solusi inovatif.

Kekurangan:

– Membutuhkan waktu dan persiapan: Menyiapkan pembelajaran inkuiri yang efektif membutuhkan waktu dan perencanaan yang matang. Guru harus merancang pertanyaan dan kegiatan yang tepat, serta menyediakan sumber daya yang diperlukan.

– Menantang bagi siswa pasif: Siswa yang terbiasa dengan pembelajaran pasif mungkin merasa terintimidasi oleh pendekatan inkuiri. Mereka mungkin membutuhkan dukungan dan bimbingan tambahan untuk menjadi pembelajar yang mandiri.

– Sulit untuk diukur: Mengukur keberhasilan pembelajaran inkuiri bisa jadi sulit. Penilaian tradisional mungkin tidak cocok, dan guru perlu mengembangkan cara-cara baru untuk menilai keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi.

– Membutuhkan guru yang terampil: Guru yang efektif dalam inkuiri harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang konten, keterampilan bertanya yang baik, dan kemampuan untuk memfasilitasi diskusi dan penyelidikan siswa.

Penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri dalam pendidikan sejarah terbukti dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa (Irmanita, 2020).

Model ini mendorong partisipasi aktif siswa dan pembelajaran mandiri, selaras dengan penekanan kurikulum 2013 pada pembelajaran mandiri. Demikian pula model pembelajaran PAKEM yang berfokus pada pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan juga dapat bermanfaat dalam konteks ini (Fahri, 2020). Lebih lanjut, penggunaan model pembelajaran artikulasi terbukti meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam menulis teks prosedur di kelas bahasa Indonesia (Martini, 2021). Temuan-temuan ini secara kolektif menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri, jika dikombinasikan dengan model pengajaran efektif lainnya, dapat meningkatkan pembelajaran dan keterlibatan siswa secara signifikan.

Model pembelajaran berbasis inkuiri menghadirkan berbagai tantangan di kelas, sebagaimana disoroti dalam beberapa penelitian. Darmini (2019) menekankan perlunya pendidikan karakter dalam model ini, yang mungkin sulit diterapkan secara efektif. Nur’azizah (2016) dan Kholipah (2020) sama-sama mencatat dampak positif model inkuiri terbimbing terhadap berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Namun, Nur’azizah (2016) juga menunjukkan bahwa guru mungkin kesulitan mengelola kelas secara efektif selama pembelajaran jenis ini. Agistnie (2022) lebih lanjut menggaris bawahi pentingnya bimbingan guru dalam model pembelajaran berbasis inkuiri, khususnya dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan penalaran.

Studi-studi ini secara kolektif menunjukkan bahwa meskipun model pembelajaran berbasis inkuiri mempunyai manfaat, model ini memerlukan perencanaan dan dukungan yang cermat agar berhasil, Model pembelajaran inkuiri memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, keberhasilannya tergantung pada berbagai faktor, termasuk perencanaan yang matang, dukungan yang tepat untuk siswa, dan guru yang terampil. Sebagai pendidik, kita perlu terus mengeksplorasi dan menyempurnakan pendekatan ini untuk memastikan semua siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi yang dibutuhkan untuk sukses di abad ke-21.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *