Kunjungan Kadis Disbudpar ke Maratua, Isu Abrasi Pantai dan Ancaman Sumber Mata Air Jadi Sorotan Krusial Pada Diskusi Terbuka

Kunjungan Kadis Disbudpar ke Maratua, Isu Abrasi Pantai dan Ancaman Sumber Mata Air Jadi Sorotan Krusial Lewat Diskusi Terbuka

Pemerintah4 Dilihat

(Aktivis.co.id) Kab. Berau, Kaltim — Kunjungan jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Berau ke Pulau Maratua menjadi ruang dialog terbuka bersama pelaku wisata, tokoh masyarakat, pemuda dan warga terkait berbagai persoalan yang dinilai krusial bagi kawasan wisata perbatasan tersebut, Rabu (20/05/2026).

Dialog yang berlangsung di area UMKM Kampung Teluk Harapan berjalan dengan khidmat dan penuh keterbukaan. Dalam kesempatan itu, masyarakat menyampaikan berbagai aspirasi mulai dari persoalan lingkungan, infrastruktur hingga kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan pariwisata di Pulau Maratua.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan kunjungannya bersama jajaran dinas bertujuan menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, terlebih dirinya baru menerima amanah sebagai pimpinan Disbudpar Berau.

“Kami datang untuk mendengar langsung apa yang menjadi persoalan utama di masyarakat, terutama hal-hal yang sudah mendesak dan berdampak terhadap keberlangsungan pariwisata maupun kehidupan warga,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, pelaku wisata menyoroti persoalan air bersih yang hingga kini masih menjadi kebutuhan mendasar masyarakat Pulau Maratua. Kondisi itu dinilai berkaitan erat dengan abrasi pantai yang terus terjadi di Kampung Teluk Harapan.

Dari hasil diskusi terungkap bahwa dari empat kampung di Kecamatan Maratua, hanya Kampung Teluk Harapan yang memiliki sumber mata air tawar yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan air bersih masyarakat.

Warga menyebut abrasi pantai di Teluk Harapan telah berlangsung cukup lama dan diperkirakan mengikis garis pantai sekitar 7 hingga 10 meter. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan sumber mata air bersih serta berdampak pada area UMKM warga di pesisir pantai.

Karena itu, masyarakat meminta adanya pembangunan tanggul penahan abrasi guna melindungi kawasan pesisir dan sumber air bersih yang menjadi kebutuhan utama warga.

Selain Teluk Harapan, abrasi pantai di Kampung Payung-Payung juga menjadi perhatian masyarakat. Salah satu tokoh masyarakat menyebut abrasi di wilayah tersebut semakin parah hingga menggerus sebagian badan jalan di kawasan pesisir.

Menurutnya, apabila tidak segera ditangani, abrasi dikhawatirkan terus meluas dan mengancam akses jalan masyarakat serta keselamatan wilayah pesisir.

Masyarakat berharap adanya langkah konkret melalui koordinasi lintas instansi terkait, termasuk pembangunan tanggul pemecah ombak dan perlindungan kawasan pesisir di tengah kondisi cuaca serta perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Yudha Budi Santosa menegaskan bahwa persoalan abrasi pantai dan ancaman terhadap sumber air bersih merupakan hal yang sangat krusial karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dan masa depan pariwisata Pulau Maratua.

“Ini persoalan penting dan sangat krusial. Saya akan membicarakan dengan dinas-dinas terkait agar hal ini bisa segera ditanggapi lebih serius,” katanya.

Sementara itu, salah satu tokoh pemuda Maratua turut membenarkan kondisi abrasi yang terjadi di Kampung Teluk Harapan.

“Memang benar abrasi di Teluk Harapan sudah terjadi cukup lama dan diperkirakan mencapai sekitar 7 sampai 10 meter,” ujarnya.

Warga dan pelaku wisata pun mengapresiasi kehadiran jajaran Disbudpar Kabupaten Berau yang telah datang langsung mendengarkan aspirasi masyarakat di Pulau Maratua.

Masyarakat berharap kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga melahirkan langkah nyata terhadap penanganan abrasi pantai, perlindungan sumber air bersih dan pembangunan kawasan wisata berkelanjutan di Pulau Maratua.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *