JAKARTA (AKT) – Tumpukan kayu yang terbawa ombak dan menepi di pesisir kerap menjadi bagian dari persoalan sampah pantai di Bali, termasuk di kawasan Tabanan. Namun di tangan Wayan Sudira, seniman dari Ulu Sari Handicraft, limbah kayu laut tersebut tidak berhenti menjadi masalah lingkungan.
Ia melihat peluang untuk menghadirkan karya, membuka ruang ekonomi, sekaligus membantu upaya pemerintah dalam mengurangi sampah pantai. Hasilnya? Kerajinan dari kayu limbah pantai kini memiliki banyak peminat, tak terkecuali dari mancanegara.
“Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar,” kata Wayan dalam keterangan yang dikutip Minggu, 17 Mei 2026.
Selaras dengan SDGs: Konsumsi Bertanggung Jawab dan Ekosistem Laut
Cara mengolah limbah kayu laut menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi ini sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) , khususnya:
· Poin 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
· Poin 14: Menjaga ekosistem laut
Limbah pantai yang semula ikut menjadi tantangan lingkungan, diolah menjadi produk bernilai, sekaligus berkontribusi pada upaya pelestarian alam.
Dari Pandemi Justru Melonjak, Tembus Pasar Global
Di saat pandemi Covid-19 membuat banyak usaha mikro dan kecil melemah, Ulu Sari Handicraft justru mendapatkan permintaan yang semakin besar dari pasar mancanegara. Hampir setiap hari, karya-karya Wayan dikirim ke berbagai negara, di antaranya:
· Selandia Baru
· Australia
· Prancis
· Belgia
· Belanda
· Jerman
· Amerika Serikat
Bagi Wayan, pencapaian tersebut bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang rasa syukur karena dapat mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap sisa menjadi manfaat bagi lingkungan dan sesama.
“Semua ini titiang yakini karena jalan Tuhan,” kata Wayan.
PNM ULaMM: Akses Pembiayaan dan Pendampingan Usaha
Sejak bergabung dengan PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) pada tahun 2017, Wayan mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan usaha secara rutin. Dukungan tersebut turut memperkuat langkah Ulu Sari Handicraft untuk berkembang lebih terarah.
“Jadi yang bisa kami lakukan adalah terus bersyukur, menjaga kepercayaan, dan bekerja sebaik-baiknya,” ujar Wayan.
45 Karyawan, Dua Bengkel, dan Dampak Sosial yang Luas
Usaha yang ia bangun kini telah memiliki dua bengkel yang berlokasi di Singaraja dan Tegallalang, serta mempekerjakan 45 karyawan. Tidak sedikit dari mereka yang merupakan:
· Saudara
· Masyarakat sekitar
· Mantan pekerja yang terdampak PHK saat pandemi
Siapa sangka, dari yang semulanya persoalan lingkungan, lahir ruang penghidupan baru bagi banyak keluarga.
Inspirasi Pemberdayaan Bermakna
Kisah Wayan Sudira menjadi contoh nyata bagaimana pembiayaan dan pendampingan PNM dapat memperluas dampak usaha mikro dan kecil, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan.
Kerajinan Ulu Sari menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari kepekaan terhadap permasalahan di sekitar. Limbah pantai yang semula menjadi tantangan, diolah menjadi produk bernilai, membuka lapangan kerja bagi masyarakat, serta membantu keluarga untuk bertumbuh bersama usaha tersebut.
Semangat seperti inilah yang membuat pemberdayaan terasa lebih bermakna. Sebab ketika sebuah usaha tumbuh, yang ikut bergerak bukan hanya pemiliknya, tetapi juga keluarga, tetangga, lingkungan, dan harapan banyak orang di sekitarnya. (N!sa)






