(Aktivis.co.id)Berau, Kaltim
MARATUA – Sudah satu bulan berlalu sejak kapal wisata Live on Board (LOB) SeaSee1 kandas di kawasan Spot Diving Channel Point Tornado Barracuda, Tanjung Bahaba, Pulau Maratua, pada 19 Juni 2026. Hingga kini, rehabilitasi terumbu karang di lokasi tersebut belum juga terlihat.
Meski penanganan kasus telah bergulir hingga Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), para pegiat wisata menilai pemulihan ekosistem belum menunjukkan perkembangan yang jelas.
Menurut mereka, setelah proses pemeriksaan dilakukan, tahapan berikutnya yang harus segera dilaksanakan adalah rehabilitasi ekosistem melalui transplantasi terumbu karang atau metode pemulihan lain sesuai rekomendasi teknis.
Spot Diving Channel Point Tornado Barracuda merupakan salah satu destinasi selam unggulan di Pulau Maratua yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut dan menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kerusakan terumbu karang di kawasan tersebut dinilai tidak hanya berdampak terhadap ekosistem laut, tetapi juga berpotensi memengaruhi sektor pariwisata yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Warga dan pegiat wisata berharap pihak pengelola LOB SeaSee1 segera menunjukkan tanggung jawab melalui langkah nyata untuk memulihkan ekosistem sesuai ketentuan yang berlaku.
Mereka menegaskan, penyelesaian insiden lingkungan tidak cukup hanya melalui investigasi dan proses hukum.
Pemulihan ekosistem harus menjadi bagian penting dari penyelesaian kasus.
Insiden kandasnya LOB SeaSee1 sebelumnya juga telah menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Berau dan DPRD Berau. Sejumlah pembahasan telah dilakukan terkait dampak insiden terhadap kawasan wisata bahari Maratua.
Namun hingga Jumat, 10 Juli 2026, rehabilitasi terumbu karang di lokasi kejadian belum juga terealisasi.
Para pelaku wisata menilai langkah pemulihan penting untuk menjaga citra Maratua sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia sekaligus melindungi ekosistem yang membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih secara alami.
Masyarakat juga berharap adanya keterbukaan informasi mengenai hasil pemeriksaan, tingkat kerusakan, serta rencana rehabilitasi yang akan dilaksanakan.
Hingga saat ini, para pegiat wisata masih menunggu progres dari Pemerintah Kabupaten Berau, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, PSDKP Tarakan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengenai pelaksanaan rehabilitasi terumbu karang di Spot Diving Channel Point Tornado Barracuda.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi mengenai jadwal pelaksanaan rehabilitasi terumbu karang di spot tersebut.***






