Citra Pariwisata Berau Jadi Sorotan,Penjemput Turis Berpakaian Preman Dinilai Perlu Di Atur

Budaya6 Dilihat

Opini : Hary Gunawan

Berau,Kaltim– Pegiat pariwisata Berau,disapa Hary menilai sudah saatnya pemerintah menyusun regulasi yang mengatur sistem penjemputan wisatawan di Bandara Kalimarau. Menurutnya, sebagai pintu gerbang utama menuju destinasi wisata unggulan seperti Maratua, Derawan, Kakaban, Sangalaki,Kaniungan bandara kalimarau Berau harus mampu menghadirkan kesan pertama yang profesional sekaligus mencerminkan identitas budaya Berau.

Hary mengatakan, hingga saat ini masih banyak penjemput wisatawan yang datang mengenakan pakaian sehari hari atau pakaian preman tanpa identitas yang jelas. Kondisi tersebut dinilai kurang mencerminkan pelayanan daerah yang sedang membangun citra sebagai destinasi wisata internasional.

“Bandara adalah wajah pertama Berau. Sebagus apa pun destinasi wisata yang kita miliki, kesan pertama wisatawan dimulai sejak mereka turun dari pesawat. Karena itu, pelayanan penjemputan harus ditata dengan baik,” ujarnya.

Menurut Hary, regulasi yang disusun pemerintah nantinya tidak harus mempersulit para sopir atau pelaku usaha transportasi. Sebaliknya, aturan tersebut justru menjadi pedoman agar seluruh penjemput wisatawan memiliki standar pelayanan yang sama, mulai dari identitas, etika pelayanan, hingga penampilan.

Ia mengusulkan agar sopir maupun pemandu wisata resmi mulai menggunakan atribut budaya lokal, seperti rompi bercorak khas Berau, topi adat Dayak, atau atribut budaya Suku Bajau. Selain mudah dikenali wisatawan, atribut tersebut juga menjadi media promosi budaya yang efektif.

“Jangan gengsi memakai identitas budaya sendiri. Wisatawan datang bukan hanya ingin melihat pantai dan bawah laut Berau, tetapi juga ingin mengenal budaya masyarakatnya. Budaya adalah nilai jual yang tidak dimiliki daerah lain,” katanya.

Hary mencontohkan sejumlah daerah yang telah berhasil menjadikan atribut budaya sebagai bagian dari pelayanan kepada tamu. Di Kalimantan Utara, penggunaan Topi Adat Bulungan (Tanjak Bulungan) telah menjadi simbol kebanggaan daerah sekaligus sarana memperkenalkan budaya lokal kepada para tamu yang datang.

Selain penataan penjemput wisatawan, Hary juga menyoroti keberadaan Duta Wisata Berau yang selama ini telah dibina dan jumlahnya cukup banyak. Menurutnya, potensi tersebut perlu dimanfaatkan secara maksimal dengan menempatkan duta wisata secara bergilir di Bandara Kalimarau untuk menyambut rombongan wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Mereka bisa menyambut tamu, mengucapkan selamat datang, memperkenalkan budaya Berau, sekaligus memberikan informasi awal mengenai destinasi wisata. Hal-hal sederhana seperti itu akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi wisatawan,” jelasnya.

Ia meyakini, jika pemerintah mulai membangun standar pelayanan yang memadukan profesionalisme dengan nilai budaya lokal, maka citra pariwisata Berau akan semakin kuat di mata wisatawan. Menurutnya, membangun pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga harus menghadirkan pengalaman dan keramahan yang berakar pada budaya masyarakat.

“Sudah saatnya Berau memiliki standar penyambutan wisatawan yang berkelas. Kesan pertama adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan pariwisata. Ketika wisatawan merasa dihargai sejak tiba di bandara, mereka akan pulang membawa cerita baik tentang Berau dan itu menjadi promosi yang paling berharga,” tutup Hary.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *