Taruhan Nyawa di Laut Maratua dan Derawan, Penyelam Profesional Desak Pengoperasian Decompression Chamber

Taruhan Nyawa di Laut Maratua dan Derawan,Penyelam Profesional Desak Pengoperasian Decompression Chamber

Nasional13 Dilihat

Berau, Kalimantan Timur (Aktivis.co.id)Keindahan Laut Maratua terus mengundang penyelam dari berbagai penjuru dunia. Namun di balik gemerlap pariwisata selam itu, terdapat celah keselamatan yang hingga kini belum tertutup.

Diving Decompression Chamber (DDC), alat vital penentu hidup dan mati penyelam, belum juga difungsikan. Bukan karena alat tidak tersedia, melainkan karena ketiadaan sumber daya manusia (SDM) yang berwenang mengoperasikannya.

Kondisi ini menjadi kegelisahan serius para penyelam profesional dan pemandu selam bersertifikat di Maratua. Mereka menilai, membiarkan fasilitas keselamatan tanpa operator sama artinya dengan membiarkan risiko fatal terus mengintai setiap penyelaman.

“Alatnya ada, tapi tidak bisa digunakan karena tidak ada SDM. Dalam situasi darurat, waktu adalah segalanya. Tanpa operator chamber, penyelam hanya berpacu dengan nasib,” ungkap seorang penyelam profesional Maratua.

Menurutnya, penyakit dekompresi dapat menyerang secara tiba-tiba, bahkan beberapa jam setelah penyelam naik ke permukaan.

Tanpa penanganan chamber yang cepat, gelembung nitrogen dalam darah dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan pernapasan, hingga kematian.

Para penyelam mengingatkan bahwa laut Maratua bukan wilayah bebas risiko. Dalam perjalanan panjang wisata selam di kawasan ini, pernah terjadi insiden serius yang menimpa penyelam akibat gangguan dekompresi.
Keterlambatan penanganan kala itu menjadi pelajaran pahit yang tidak seharusnya terulang.

Ruang dekompresi atau hyperbaric chamber berfungsi sebagai terapi oksigen bertekanan tinggi untuk mengatasi Decompression Sickness, kondisi medis akibat terbentuknya gelembung gas dalam pembuluh darah karena perubahan tekanan yang ekstrem.

“Ketika penyelam turun ke kedalaman, tekanan meningkat. Jika naik terlalu cepat, nitrogen tidak sempat keluar secara normal. Chamber adalah satu-satunya jalan untuk menormalkan kondisi itu,” jelasnya.

DDC yang digunakan dalam penanganan dekompresi umumnya bertipe Twin Lock, mampu menampung lebih dari satu pasien dan dioperasikan oleh tenaga medis terlatih dengan standar keselamatan ketat.

Tanpa operator bersertifikat, chamber tidak dapat dijalankan meski fisik alat tersedia.
Informasi yang berkembang menyebutkan, chamber tersebut berada di wilayah Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, dan direncanakan ditempatkan di rumah sakit umum baru.Bahkan, sebelumnya disebut telah ada pelatihan tenaga medis dari Kabupaten Berau untuk menjadi operator chamber.

Namun hingga kini, keterbatasan SDM menjadi penghambat utama pengoperasian alat tersebut.
Bagi para penyelam, persoalan ini tidak boleh lagi dibiarkan berlarut.

Intensitas penyelaman yang tinggi, variasi kedalaman yang ekstrem, serta meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara membuat keberadaan chamber yang siap pakai menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar rencana.

“Keselamatan tidak cukup hanya dengan alat. Harus ada manusia yang siap mengoperasikannya. Ini harus menjadi pertimbangan serius pemerintah daerah,” tegasnya.

Para penyelam berharap pemerintah segera menyiapkan dan menugaskan SDM terlatih agar decompression chamber dapat dioperasikan secepatnya.

Tanpa langkah konkret, setiap penyelaman di Maratua akan terus menyisakan satu pertanyaan besar: siapa yang siap menolong saat keadaan darurat benar-benar terjadi.

“Dengan chamber yang berfungsi dan SDM yang siap, risiko bisa ditekan. Tanpa itu, kami hanya menyelam dengan harapan,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *