Nunukan,Kal-tara (L.A) — Ketua Lembaga Investigasi Negara Kalimantan Utara, Aslin, menyoroti langsung kondisi Pos Sekaca yang berada di perairan Sungai Ular, Nunukan, saat melakukan investigasi lapangan pada Jumat (17/04/26).
Hasil peninjauan tersebut mengungkap kondisi bangunan yang dinilai memprihatinkan serta menunjukkan masih kurangnya perhatian lintas lembaga dalam penguatan infrastruktur di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Dalam perjalanannya menuju Nunukan, Aslin sempat singgah di lokasi Pos Sekaca untuk menunggu cuaca membaik. Momen tersebut dimanfaatkannya untuk melihat secara langsung kondisi bangunan pos yang selama ini menjadi salah satu titik pengamanan wilayah perbatasan.
Dari hasil pengamatannya, terlihat banyak bagian papan bangunan yang sudah rusak dan lapuk. Struktur pos juga tampak rapuh, bahkan mudah bergoyang saat diterpa angin, yang tentu berpotensi membahayakan keselamatan personel yang bertugas.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan. Bangunan terlihat tidak kokoh dan berisiko bagi anggota yang bertugas di dalamnya,” ungkap Aslin.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar konstruksi Pos Sekaca masih menggunakan material kayu yang sudah berusia tua dan rentan terhadap kerusakan. Selain itu, faktor lingkungan juga menjadi ancaman serius, di mana saat debit air sungai meningkat, area pos kerap terendam dan mengganggu aktivitas pengamanan serta pelayanan di lapangan.
“Berdasarkan hasil investigasi kami di lapangan pada Jumat, kondisi Pos Sekaca sangat memprihatinkan. Ini bukan hanya soal bangunan lama, tapi juga menyangkut kelayakan dan keselamatan,” tegasnya.
Aslin juga menyoroti perbandingan kondisi dengan pos penjagaan yang berada di seberang sungai, wilayah Malaysia. Ia menilai terdapat perbedaan signifikan, terutama dari segi konstruksi dan kelengkapan fasilitas.
“Di seberang sungai kita bisa melihat pos milik Malaysia sudah dibangun dengan konstruksi beton yang kuat, dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai, serta menggunakan tiang pancang yang kokoh. Ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, informasi dari nelayan setempat menyebutkan bahwa Pos Sekaca telah dua kali roboh akibat diterjang cuaca ekstrem. Fakta tersebut memperkuat bahwa pembangunan sebelumnya belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi geografis dan karakter lingkungan di wilayah perbatasan.
“Dari keterangan nelayan, pos ini sudah dua kali roboh karena cuaca ekstrem. Ini menandakan perlunya kajian teknis yang lebih matang dalam pembangunan ke depan,” tambahnya.
Aslin menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pos perbatasan bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kehadiran negara yang harus mencerminkan kekuatan, kesiapan, dan perlindungan terhadap wilayah kedaulatan.
Ia mendorong adanya sinergi nyata antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, DPR, serta institusi TNI AD untuk bersama-sama melakukan kajian ulang terhadap pembangunan Pos Sekaca.
Kajian tersebut dinilai penting agar pembangunan ke depan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu menjawab tantangan lingkungan seperti banjir, arus sungai, dan cuaca ekstrem.
“Perlu duduk bersama, menyatukan pandangan, dan melakukan kajian ulang secara menyeluruh. Jangan sampai kesalahan yang sama terus berulang. Perbatasan adalah wajah negara, dan sudah seharusnya dibangun dengan serius, terencana, dan penuh tanggung jawab,” pungkasnya.***






